Surat untuk Jokowi

Joko Widodo merupakan sosok pemimpin yang mungkin sudah lama dinanti-nanti oleh masyarakat karena ketegasannya dalam cara memimpin. Beliau mantan walikota Solo yang sekarang menjabat sebagai orang nomor satu di DKI memang menjadi sosok inspirasional bagi banyak orang termasuk saya. Beberapa waktu lalu sebelum beliau dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta ada ajang lomba menulis surat untuk Jokowi dan Dahlan Iskhan. Ya, tentu saja saya berpartisipasi dalam event ini karena sangat jarang dan menjadi media untuk menyampaikan gagasan saya pada beliau. Walaupun surat saya tak masuk dalam 30 surat terbaik yang akan dicetak menjadi buku, saya postingkan dan semoga pak Joko Widodo dapat membacanya.

Jurang Mangu Timur, 24 April 2012

Yth.

Bapak Joko Widodo

di tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, pada hari yang spesial ini saya masih diberi kesempatan untuk mencurahkan isi hati dan unek-unek yang ingin saya sampaikan kepada sosok orang yang sangat inspirasional. Luapan kegembiraan yang sudah lama ingin saya tuangkan menjadi secarik surat untuk orang yang sangat istimewa bagi diri saya, Bapak Joko Widodo.

Dalam menulis penggal demi penggal coretan-coretan ini, saya akan menunjukan bahwa ketika seorang pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya maka ia akan mengabdi dengan sepenuh hati tanpa ada kepentingan di dalamnya. Selesai dengan dirinya berarti urusan-urusan yang berhubungan dengan diri pribadinya sudah tidak menjadi fokus utama dalam kehidupannya. Hal ini lah yang saya lihat ada pada diri Anda, Bapak Jokowi.

Joko Widodo atau yang lebih akrab dipanggil Jokowi dulunya adalah sebuah nama biasa bagi saya. Namun sekarang nama tersebut merupakan salah satu nama dari sosok yang menjadi inspirasi saya. Nama Jokowi pertama saya dengar dari lisan seorang guru ketika saya masih mengenakan putih abu-abu.  Beliau bercerita bahwa Bapak Jokowi adalah satu-satunya walikota yang mendapat dukungan rakyat lebih dari 90% di pilkada keduanya.

Di dalam benak saya, jika seseorang ingin mendapatkan dukungan dalam ajang lima tahunan ini tentu ada sesuatu dibalik hal tersebut. Betapa tidak, sejarah banyak membuktikan bahwa menjelang penyelenggaraan pemilihan umum, money politic sudah menjadi suatu kebiasan. Bahkan setingkat pemilihan lurah atau kepala desa pun hal ini sudah lumrah terjadi. Namun Bapak dapat melakukannya tanpa bersusah payah kampanye mempromosikan diri.

Lalu apa yang membuat Bapak berbeda dengan yang lainnya di mata saya? Yah, kredibilitas dan karakter pembela rakyatlah yang membuat Bapak yang dulunya seorang tukang kayu sekarang menjadi seorang pemimpin sebuah kota, walikota. Tindakan nyata tanpa banyak janji yang terlontar adalah jurus sakti untuk memikat hati rakyat yang sedang mencari sosok pemimpin yang benar-benar memikirkan wong cilik.

Tampilan sederhana dan apa adanya dengan tidak gengsi karena sudah menjadi nomor satu di Solo adalah ciri khas Bapak. Bapak adalah sebuah harapan baru bagi tanah air tercinta ini. Negeri yang katanya “gemah ripah loh jinawi”, tenteram dan makmur serta subur tanahnya, ini sedang dilanda krisis pemimpin. Yang dibutuhkan negeri ini adalah seorang pemimpin berjiwa tulus, bukan pemimpin berjiwa fulus.

Kembali ke topik, pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya bukan berarti ia melupakan keduniawiannya. Syarat seseorang akan selesai dengan dirinya adalah sudah tercukupi kebutuhan pokoknya. Kebutuhan pokok disini mencakup pangan, sandang, dan papan. Jika ketiga hal ini sudah terpenuhi semua dengan kualitas dan kuantitas yang layak tentunya motif untuk mencari penghasilan tidak akan menjadi tujuan utamanya. Sebagai contoh orang-orang di negara maju yang notabene kesejahteraannya sudah merata. Mereka melakukan suatu pekerjaan tidak semata-mata ingin memperoleh penghasilan tetapi juga ingin memberikan yang terbaik dengan motif selain uang sehingga dalam prakteknya korupsi jarang terjadi. Bahkan mereka lebih banyak meluangkan waktunya untuk ikut andil dalam kegiatan organisasi sosial serta melakukan riset dan penelitian. Itulah mengapa di negara maju keadaan ekonominya tidak terhambat oleh birokrasi yang semrawut.

Pak Jokowi, mungkin bagi orang-orang yag tidak pernah merasa puas dan bersyukur atas apa yang sudah didapatnya, mereka akan beranggapan bahwa pendapatan Bapak kurang layak. Namun sesuai prinsip Bapak yaitu “sederhana dalam kesederhanaan” pastinya Bapak akan mengatakan apa yang sudah diperoleh adalah suatu yang sangat besar. Karakter Bapak inilah yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin yang hebat.

Yang saya lihat dari Bapak sebagai walikota solo, Bapak tidak menjadikan jabatan  sebagai ladang penghasilan. Tiang utama penghasilan Bapak adalah penjualan furniture yang Bapak pasarkan. Yang lebih sensasional Bapak tidak pernah mengambil gaji sebagai sebagai walikota. Saya jadi teringat perkataan Bapak saat diwawancarai para wartawan. Perkataan tersebut kurang lebih adalah “sebenarnya saya malu untuk menceritakan ini (tidak mengambil gaji). Masih ada yang lebih membutuhkan daripada saya”. Sungguh luar biasa.

Sebenarnya saya adalah tipe orang yang tidak mudah fanatik terhadap sesuatu. Namun hati kecil saya berbisik seharusnya ada sosok yang seharusnya saya kagumi dan menjadi panutan, setelah Rasulullah tentunya. Rasa kekaguman saya mulai bersemi ketika Bapak dengan kerendahan hati mampu merelokasi para pedagang kaki lima tanpa anarki. Biasanya jika ada relokasi PKL pasti berakhir dengan kericuhan dan lempar batu antara Satuan Polisi Pamong Praja dengan para pedagang. Proses pemindahan para PKL ke tempat yang seharusnya memang tidak dilakukan Bapak secara instan. Dengan metode pendekatan “memanusiakan manusia”, Bapak telah meluluhkan hati para PKL. Para PKL Bapak ajak untuk berdiskusi dan mengeluarkan keluh kesah, pendapat, dan saran dalam sebuah acara berkonsep makan bersama. Bahkan pertemuan tersebut Bapak lakukan sebanyak 54 kali sampai para PKL mau secara sukarela untuk pindah.

Hati saya semakin treyuh ketika membaca berita tentang  Bapak pada salah satu surat kabar ternama. Berita tersebut memuat artikel bagaimana rakyat Solo berbondong-bondong untuk mengumpulkan dana untuk membantu kampanye pemimpin mereka yang akan mencalonkan diri sebagai DKI1. Dana yang terkumpul memang tidak seberapa, tetapi niat rakyat-rakyat ini sangatlah luar biasa. Walaupun sang nahkoda akan meninggalkan kapal yang selama ini sudah mengantarkan mereka ke pulau kesejahteraan, para awak beserta kru lainnya dengan ikhlas mendukung sang nahkoda untuk mengendarai kapal pesiar yang jauh lebih besar. Pemimpin yang dicintai rakyatnya memang sangat jarang di negeri beribu-ribu pulau ini.

Pada pertengahan tahun ini ibukota Indonesia akan menggelar hajatan akbar yakni pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Keikutsertaan Bapak dalam pilkada ini memang langkah yang tepat. Banyak rakyat yang mendukung bapak sebagai pemimpin kota teras negara. Jakarta sebagai jendela Indonesia harus dipimpin oleh pemimpin yang akan bekerja dengan hati.

Harapan saya kepada Bapak jika terpilih menjadi DKI 1 nanti, terapkan visi dan misi Bapak secara tegas. Masalah di Jakarta memang sangat kompleks jika dibandingkan dengan Solo. Penyelesaian masalah-masalah di Jakarta tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah namun harus terintegrasi secara keseluruhan. Dengan manajemen yang baik tentunya masalah di Jakarta dapat diselesaikan karena didukung dengan dana yang besar pula. Dengan dana yang begitu besar, Jakarta bisa menjadi ladang basah bagi pemimpin yang tidak punya hati, namun Bapak jangan gentar dengan tekanan dari pihak-pihak yang hanya ingin memanfaatkan ladang basah itu.

Terakhir untuk memutup surat ini. Pak Jokowi, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan sosok pemimpin seperti Bapak. Sosok pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sehingga mampu menjalakan amanah sebagai pemimpin yang benar-benar ada di pihak rakyat. Pemimpin yang tidak semata-mata melakukan pencitraan di depan khalayak, tetapi pemimpin yang mau turun ke jalan walaupun hanya di belakang layar. Semoga Bapak tetap menjadi sosok inspirasional  bagi saya pada khususnya dan bagi masyarakat yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik pada umumnya. Konsisten dengan apa yang telah Bapak prinsipkan selama ini agar para pemimpin Indonesia yang belum menemukan jati dirinya sadar. Tetaplah seperti semut yang bekerja bersama rakyat membangun negeri untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

Demikian surat yang bisa saya tuliskan untuk Bapak, atas perhatian Bapak saya ucapkan terima kasih.

Salam hangat.

Mukhamad Romdoni

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s